Waspadai Dampak Memaksa Balita Belajar Calistung Pada Kesehatan Mentalnya!

Waspadai Dampak Memaksa Balita Belajar Calistung Pada Kesehatan Mentalnya!

Kemampuan anak usia dini dalam membaca, menulis, dan berhitung (calistung) mulai menjadi polemik tersendiri bagi orang tua. Pasalnya pada jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA), anak tidak ditekankan pembelajaran calistung, namun saat hendak masuk Sekolah Dasar (SD) justru pihak sekolah tertentu melakukan seleksi dengan menuntut kemampuan calistung. Hal ini membuat beberapa orang tua mulai stress dengan perkembangan kognitif anak dan cenderung menekan anak untuk segera lancar calistung. Sebelum ayah bunda melakukan hal yang sama, mari simak bagaimana tahapan pembelajaran yang tepat sesuai kemampuannya dan dampak dari terlalu cepat menekankan kemampuan  calistung pada anak.

Kemampuan Aksara Anak Usia Dini

Materi pembelajaran aksara adalah salah satu bagian dari kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pengadaan pembelajaran aksara ini bertujuan sebagai tahap ‘pengenalan’ keterampilan membaca, menulis, dan berhitung. Berikut capaian keterampilan keaksaraan yang dimaksud dalam Peraturan Menteri No. 137 Tahun 2014:

A. Berfikir Logis

  1. Mengklasfikasi benda berdasarkan fungsi, bentuk atau warna atau ukuran
  2. Mengenal gejala sebab-akibat yang terkait dengan dirinya
  3. Mengklasifikasikan benda ke dalam kelompok yang sama atau kelompok yang sejenis atau kelompok yang berpasangan dengan dua variasi
  4. Mengenal pola (missal: AB-AB dan ABC-ABC) dan mengulanginya
  5. Mengurutkan benda berdasarkan lima seriasi ukuran dan warna

B. Berfikir Simbolik

  1. Membilang banyak benda satu sampai sepuluh
  2. Mengenal konsep bilangan
  3. Mengenal lambang bilangan
  4. Mengenal lambang huruf

C. Kemampuan Bahasa

  1. Menyimak perkataan orang lain (bahasa ibu atau bahasa lainnya)
  2. Mengerti dua perintah yang diberikan bersamaan
  3. Memahami cerita yang dibacakan
  4. Mengenal perbendaharaan kata mengenai kata sifat (nakal, pelit, baik hati, berani, baik, jelek, dan sebagainya)
  5. Mendengar dan membedakan bunyi-bunyiandalam Bahasa Indonesia (contoh: bunyi dan ucapan harus sama).
Baca juga  Bantuan Sosial Untuk Balita Dari Pemerintah, Simak Ulasannya di Bawah Ini

Dampak Terlalu Dini Memaksa Kemampuan Calistung

Tidak ada yang salah dari mengenalkan anak usia dini tentang pembelajaran calistung. Namun, harus disesuaikan dengan tumbuh kembang dan kemampuan anak dan melakukannya dengan lembut dan menyenangkan. Hal ini karena pada usia dini anak perlu mendapatkan rangsangan yang cukup dalam mengembangkan kedua belah otaknya (otak kanan dan otak kiri), sehingga akan memperoleh kesiapan yang menyeluruh untuk belajar dengan baik dan berhasil pada saat memasuki SD.

Tuntutan calistung kepada anak usia dini memiliki peran terhadap munculnya stress akademik pada anak usia dini. Banyaknya tuntutan yang diberikan kepada anak, dan penerapan calistung yang tidak sesuai dengan aturan memberikan potensi munculnya stress akademik pada anak usia dini. Hal ini diperkuat oleh penelitian Pratiwi, E (2015) yang menunjukan bahwa “Apabila pembelajaan calistung yang terburu-buru dan tidak sesuai dengan dunianya maka akan menjadi pemberontakan, merasakan kejenuhan dan kebosanan belajar, ketidaksiapan anak untuk memasuki dan mengikuti kegiatan di SD berdampak pada gangguan berkomunikasi, gangguan pengendalian emosi, stress, depresi dan gangguan perilaku lainnya pada masa usia remaja hingga dewasa.” Selain itu menurut Misra (2004) menyatakan “menekankan kesulitan dalam belajar, pada kasus yang berat dapat menyebabkan putus sekolah, karena siswa tidak dapat menggunakan semua kemampuan mental mereka dan belajar bagaimana untuk mengambil konten emosional mereka.”

Masa taman kanak-kanak adalah masa bermain, maka perlu adanya perhatian lebih untuk mengajarkan calistung dengan cara menyenangkan, salah satunya dengan berbagai media permainan yang membuat anak tetap menikmati kegiatan belajarnya dan mampu memaknai setiap ilmu yang diterimanya. Pun perlu adanya kesadaran setiap orang tua dan pendidik bahwa ada yang lebih penting untuk diajarkan pada anak usia dini yaitu karakter. Anak yang berkarakter akan lebih teratur dan mampu mengendalikan emosinya, serta mampu mengikuti aturan yang berlaku. Kunci kecerdasan anak adalah kematangan emosi, bukan pada kemampuan kognisi karena serabut otak kognisi pada anak belum terbentuk atau belum tumbuh dengan baik. Oleh karena itu, ukuran kecerdasan anak bukan pada kemampuan kognitif (calistung), melainkan pada kematangan emosi.

Baca juga  Belajar Calistung Lebih Menyenangkan Sesuai Tahap Perkembangannya

Alih-alih menjadi anak yang cerdas dan berprestasi, dengan memaksa anak menguasai calistung lebih dini justru akan berdampak buruk pada kesehatan mental dan prestasi anak kedepannya. Ayah bunda akan lebih bijak jika memfasilitasi tumbuh kembang anak sesuai usia dan kemampuannya. Semoga artikel ini bermanfaat ya ayah bunda, tetap semangat membersamai buah hati bertumbuh dengan bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.